Rabu, 08 Desember 2010
BENCANA NASIONAL GEMPA - TSUNAMI ACEH: "Tuntutan untuk lebih serius dalam mitigasi bencana"Gempa di Aceh yang diikuti tsunami dengan puluhan ribu korban jiwa dan kerugian materi yang tak terhitung, untuk kesekian kalinya menghenyakkan kesadaran dan mengguncang jiwa kita. Gempa yang mulai terjadi hari Minggu 26 Desember 2004 tersebut sampai saat ini masih terus berkelanjutan dengan gempa-gempa susulannya. Hingga hari ini =E2=80=93 tanggal 29 Desember 2004 - sudah tercatat getaran-getaran dengan kekuatan 5-9 Skala Richter sebanyak 40 kali, dan belum jelas terlihat tanda-tanda kapan akan berhenti. Kita semua menundukkan kepala, kita semua berduka, kita semua menangis. Tapi tangisan dan keprihatinan saja tidak cukup dalam menyikapi sebuah bencana. Diperlukan langkah nyata berbasis alasan ilmiah yang cukup agar didapat gerak yang efektif dalam menanggulangi dan sekaligus bersiap mengantisipasinya lagi di masa depan. Sudah saatnya kita menangani bencana tidak hanya dengan mengandalkan naluri charitas belaka. Kondisi geologi Indonesia yg merupakan pertemuan lempeng-lempeng tektonik menjadikan kawasan Indonesia ini memiliki kondisi geologi yang sangat kompleks. Selain menjadikan wilayah indonesia ini kaya akan sumberdaya alam, salah satu konsekuensi logis kekompleksan kondisi geologi ini menjadikan banyak daerah-daerah di Indonesia memiliki tingkat kerawanan yg tinggi terhadap bencana alam. Beberapa diantaranya adalah rawan gempa bumi, tsunami serta rawan letusan gunung api disepanjang "ring of fire" dari Sumatra - Jawa - Bali - Nusatenggara -Banda - Maluku. Pemahaman akan resiko tinggal didaerah dengan kerawanan bencana tinggi ini semoga tidak menjebak kita pada pemikiran sempit bahwa kita sedang memang menjalani "takdir hitam". Alam selalu bertindak jujur, adil, berjalan dengan aturan, rambu-rambu dan petunjuk, tanda-tanda yang amat jelas bagi yang bersedia memahaminya dengan tawadlu' dan kerendahan hati. Daerah rawan bencana gempa dan tsunami Indonesia hampir semuanya berada pada daerah yg tingkat populasinya sangat padat. Daerah-daerah ini sering merupakan pusat aktifitas serta sumber pendapatan masyarakat serta negara, dan menjadi pusat pencurahan dana pembangunan. Namun ketika bencana gempa dan tsunami itu terjadi maka usaha-usaha pembangunan yg sudah dilakukan akan hilang dan lenyap dalam waktu yang sangat singkat dan bersifat katastropik.
Senin, 06 Desember 2010
Demi Layang-layang
Tanggal 04 Juli 2010, waktu serasa hambar ketika aku datang ke sekian kalinya. Kubuang raut sayang di mukanya dan dia menangis. "Apa alasannya kamu menangis?" kalimat tanya yang sangat bodoh ku ungkapkan pada seorang wanita yang ternyata selama ini menanti kehadiranku, sebab sudah beberapa bulan ini tak bertemu. Di hari hujan itu, aku bertemu olehnya di tempat pecinaan yaitu tiong thing. Udara yang dingin mengendap di suasana renung itu. "Apa kau baik-baik saja dengan keadaan ini... " tanyaku sekali lagi bodoh. Dia mengepakkan kelopak matanya sungguh piawai di suasana yang amat mengacaukan perasaan ini. Ku sempatkan sejenak memperhatikan denyut dadanya yang kembang kempis tak beraturan, seakan menahan tangis tetapi selalu ditahannya dengan cegukkan nafas yang terdengar menghanyutkan kesunyian. Dan aku masih mendiamkannya, namun sebenarnya di hati ini dipenuhi sejuta tanya akan kabarnya yang mungkin berangsur tak baik dan kian menjadikannya pribadi yang berbeda nanti. Aku meragukannya jika dia baik-baik saja. "Nik, setidaknya kau sapa aku dulu..." tegasku untuk meyakinkan diri bahwa anggapanku tadi tidaklah benar. Dan dia masih diam, seakan tidak merasakan kehadiranku. "Ibu udah ga ada Nik, aku ikut berduka tentang hal ini" sapaku yang canggung ini memang dirasa tak dapat memudarkan gelitik hatinya. Dari ujung gerbang hingga masuk ke tiong thing, tercium aroma dupa dan bunga untuk lelayu di tiap sudut area itu. Kuperhatikan sekitar sini dan situ, masih sepi tak ada pelayat yang hendak melayat. Eloknya tempat ini, menggantikan perhatianku kepada seorang gadis bernama Nike Tania. Ya, dia mantan pacarku.
"Sinto, sejak kapan kamu datang nak.." sapa Pak Hendrik yang kaget melihat kedatangan saya dari samping peti.
"Bapak...baru saja Pak, belum ada lima menit" sahutku ramah.
"Naik apa To kesininya?" tanya-nya dengan raut sedih tetapi dipaksakannya senyum.
Langganan:
Komentar (Atom)
Blog Archive
About Me
- Unknown
Pengikut
Kotak Suara Anda
Diberdayakan oleh Blogger.

